KUALITAS MUSIK MASAYARAKAT MENURUN

Selera musik masyarakat dunia telah menurunm terutama di Indonesia. Banyaknya band dan musisi yang mempunyai karakter musik yang sama dan tema lagu yang dipublikasikan adalah tentang cinta, membuat sikap dan mental pendengar menjadi mabuk cinta. Padahal bila melihat masa – masa musisi terdahulu, misalnya The Beatles dan Koes Plus, mereka berkarya dalam musik bukan hanya bernyanyi lagu tentang cinta, namun diimbangi dengan tema lainnya, seperi Nasionalis, Alam, Budaya dan lainnya.

Bagi anda yang pada 2008 ini menginjak usia 30 tahun atau lebih pasti tidak asing dengan penyanyi atau group band yang pernah berjaya pada tahun 1980-an. Dari kalangan penyanyi saat itu, ada Chrisye, Fariz RM, Dedi Dukun, Harvey Malaiholo yang mewakili genere pop kreatif; Ebiet G Ade, Iwan Fals, Franky S dari balada dan country; untuk rock Nicky Satria dan Mel Shandy; populer adalah Dian Piesesha, Nia Daniati, Jamal Mirdad; serta jazz Ermy Kulit , Trie Utami. Dari kalalangan musisi, ada Emerald, Bhaskara, Power Metal, dan lain-lain.

Satu dekade berikutnya, era 1990-an, belantika musik Indonesia mengalami lompatan perubahan cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan munculnya group band dengan warna baru. Sebut saja Dewa 19, Bragi, Kahitna, Java Jive, GIGI, Ada Band, dan Padi. Mereka ini sekumpulan anak muda dengan sekumpulan kreativitas yang akhirnya menjadi penentu peta musik selanjutnya, menyusul meredupnya era musik 1980-an. Apa dan bagaimana kekuatan kedua peta musik ini? Mari kita telusuri.

Pengamat musik Bens Leo bahkan menyebut, peta musik era 1980-an merupakan puncak dari keberagaman corak musik di Indonesia. Perbedaan mencolok dua kekuatan peta musik itu teletak pada spirit penciptaannya. Dalam hal ini, perusahaan rekaman (label) tidak menjadi majikan para kreator. Pengertiannya dapat digambarkan sebagai berikut. Pada masa itu, baik group band maupun pencipta lagu bagi penyanyi solo tidak pernah dikejar target penciptaan demi memenuhi klausul yang tertuang dalam surat perjanjian. Secara teknis, kebanyakan dari mereka terlebih dulu mencipta musik, lantas disodorkan kepada poduser. Itu pun tidak dilakukan secara membabi buta seperti sekarang. Melalui proses panjang penciptaan dan ketatnya seleksi di meja produser mereka benar-benar melahirkan karya-karya berkualitas dan abadi. Coba kita simak syir lagu ini:

Dunia ini panggung sandiwara

Ceritanya mudah berubah

Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan

Ada peran wajar dan ad peran pura-pura

Mengapa kita bersandiwara

Pengalan syir tadi berjudul panggung sandiwara ciptaan rocker gaek Ian Antono. Lagu bergenere rock yang pernah dibawakan oleh Do Kribo, Nicky Astria, Nike Ardila, dan Sheila On Seven. Ini bukanlah termasuk lagu dengan tingkat kesulitan tinggi. Hampir setiap kita dapat dengan mudah menyanyikannya. Namun, baik melodi laagu maupun musiknya amat orisinal, jauh dari penjiplakan, sehingga sampai sekarang lagu ini masih tetap dikenang lantaran kualitas yan terkandung di dalamnya.

Sekarang mari kita cermati kecenderungan musik era 1990-an, terutama tahun 2000-an, eranya group band. Ibarat mata uang dalam suatu negara, jumlah group band di Indonesia sudah mlai menunjukkan “inflasi”. Praktis penyanyi solo yang masih eksis ditengah desakan liar munculnya group band hanyalah Crisye ( almarhum), Ari Lasso, Audy, Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Titi DJ, dan Rossa. Sementara posisi penyanyi lainnya tergeser oleh group band.

Kondisi itu mengindikasika bahwa peranan label sangat dominan. Ruang kontemplasi dan proses panjang penciptaan lagu sudah tidak dimiliki oleh para pencipta lagu. Yang ada, mereka mengerjakan tugas sebagai tukang bikin lagu sesuai dengan kontrak dengan pihak label. Jika target terpenuhi, mereka mendapat keuntungan. Namun, keterlambatan sedikit saja, pihak label akan memberi sanksi sesuai ketentuan kontrak (Kasus sengketa keterlambatan setoran lagu terjadi pada group band Dewa 19 dengan pihak label). Akibat yang dirasakan adalah menurunnya kualitas lagu.

Rupanya label hanya menjual group-group band yang menawarkan wajah tampan dan cantik dengan mengabaikan kualitas musik dan suara. Maklim, era 1990-an bagi label adalah lahan empuk untuk mengeksploitasi hal-hal yang hanya bersifat artifisial. Iming-iming menggiurkan ini, bagi group band dengan validitas tampang, merupakan kesempatan emas. Oleh karena itu tak mengherankan sekarang ini banyak grou band yang mungkin baru menelorkan satu album tapi sudah menerima royalti miliaran rupiah.

Bagaimaa dengan pengemar musik dua masa itu? Inilah yang cukup unik untuk sekedar diperbandingkan. Dahulu dapat dipastikan penggemar group rock God Bless adalah bukan penggemar Mus Mujiono, Vina Panduwinata, apalagi Ebiet G Ade. Begitu pula pemgemar Rinto Harahap, mereka akan enggan menyaksikan pementasan Gomboh atau Iwan Fals. Tidak seperti sekarang, penonton Ungu juga menonton Matta, Kangen band, Titans, Peterpan Dewa atau Slank. Mereka sudah tidak lagi membutuhkan lagu-lagu dengan kualitas memadai. Yang peting musiknya ingar-bingar, goyangan heboh, dan bintangnya cakep. Yang lebih mengherankan, jika dulu korban meninggal penonton akibat kerusuhan di depan panggung hanya terjadi pada musik rock dan dangdut saja. Saat ini hampir semua pergelaran dari berbagai genere pun rawan kecelakan.

Sisi positif dari berubahnya pasar musik sejak era 1990-an memang merupakan kabar menggembirakan bagi khasanah musik Indonesia. Hal ini tidak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan proses produksi.

Namun, kabar gembira itu tentu diikuti dampak negatif, yaitu perusahan rekaman memaksakan penikmt musik menerima peredaran lagu yang cenderung sereagam warnanya. Dari grou band ke group band, warna musik yang ditampilkan tidak beda jauh. Masyarakat pun tidak diberi kesempatan untuk memilih. Terhitung hanya ada beberapa group saja yang mampu menarik minat seperti Ada Band, Letto, Nidji, dan Kerispatih.

Mencermati kondisi memprihatinkan ini, saya berpendapat, dua komponen yang memegang peranan penting perkembangan musik, yaitu perusahan rekaman dan media elektronik (radio dan televisi), hendaklah memberi ruang apresiasi seluas-luasnya kepada masyarakat pencinta musik Indonesia. Caranya mengairahkan kembali keberagaman pasar musik.

Add an Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: